Read Time:4 Minute, 9 Second

Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, ikut memperingatkan negara Barat jika dua negara tetangga, Finlandia dan Swedia bergabung dengan NATO.

Selain itu, Medvedev juga menuturkan, peningkatan dukungan militer Barat ke Ukraina ikut memicu konflik antara Rusia dan NATO.

Menurutnya, konflik-konflik tersebut bisa membawa risiko berubah menjadi perang nuklir besar-besaran.

“Negara-negara NATO memompa senjata ke Ukraina, melatih pasukan untuk menggunakan peralatan Barat, mengirim tentara bayaran dan latihan negara-negara Aliansi di dekat perbatasan kita meningkatkan kemungkinan konflik langsung dan terbuka antara NATO dan Rusia,” katanya dalam sebuah posting Telegram, dikutip dari Reuters.

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev. (Daily Star/Getty)

“Konflik seperti itu selalu memiliki risiko berubah menjadi perang nuklir besar-besaran.”

“Ini akan menjadi skenario bencana bagi semua orang,” tambahnya.

Seperti diketahui, Rusia dan Amerika Serikat merupakan negara yang memiliki kekuatan nuklir terbesar di dunia.

Rusia memiliki sekitar 6.257 hulu ledak nuklir.

Sementara, tiga kekuatan nuklir NATO, dari Amerika Serikat, Inggris dan Prancis, memiliki sekitar 6.065 hulu ledak gabungan.

Hal ini menurut Asosiasi Kontrol Senjata yang berbasis di Washington.

Putin juga mengatakan “operasi militer khusus” di Ukraina diperlukan karena Amerika Serikat menggunakan Ukraina untuk mengancam Rusia.

Untuk itu, Putin mengklaim Moskow harus bertahan melawan penganiayaan terhadap orang-orang Rusia.

Putin, yang mengatakan Ukraina dan Rusia pada dasarnya adalah satu orang, menyebut perang itu sebagai konfrontasi yang tak terhindarkan dengan Amerika Serikat.

Putin pun menuduh AS mengancam Rusia dengan ikut campur di ‘halaman belakangnya’ melalui perluasan NATO ke arah timur.

Ukraina mengatakan sedang memerangi perampasan tanah gaya kekaisaran dan bahwa klaim genosida Putin adalah omong kosong.

Ukraina mengatakan, invasi Putin hanya memperkuat keinginan rakyat Ukraina untuk berpaling ke barat dari orbit Rusia.

Presiden Finlandia Tak Gentar soal Ancaman Putin

Sebelumnya diberitakan, Presiden Finlandia, Sauli Niinisto mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin harus bercermin jika Finlandia resmi bergabung dengan NATO.

Dilansir Reuters, negara Nordik ini diperkirakan akan mengonfirmasi bergabung tidaknya dalam keanggotaan NATO dalam waktu dekat.

Niinisto menyinggung Putin saat ditanya wartawan di sela pertemuannya dengan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson di Helsinki.

Lawatan Johnson ke Finlandia bertujuan untuk menyepakati pakta kerja sama pertahanan.

“Jika itu masalahnya, maka tanggapan saya adalah: Anda yang menyebabkan ini. Berkaca,” jawab Presiden Niinisto saat ditanya tentang kemungkinan tanggapan permusuhan dari Rusia jika Finlandia memilih untuk bergabung dengan NATO.

Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Presiden Finlandia Sauli Vainamo Niinisto (kiri) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2015). Kedua pemimpin tersebut bersama masing-masing delegasi melakukan pertemuan bilateral untuk meningkatkan kerja sama antara kedua negara. TRIBUNNEWS/SETPRES (SETPRES/SETPRES)

Rusia berulang kali memperingatkan Finlandia dan Swedia agar tidak bergabung dengan NATO, sembari mendesak aliansi militer Barat pimpinan AS itu agar menutup keanggotannya.

Menurut Niinisto, Rusia menganggap Finlandia tidak memiliki “kehendak sendiri” dengan tuntutannya tersebut.

Niinisto mengatakan invasi Rusia ke Ukraina mengubah situasi, karena itu menunjukkan Rusia siap menyerang negara tetangganya.

Menurut laporan Reuters, para diplomat dan pejabat mengatakan bahwa Finlandia diperkirakan akan mengumumkan niatnya untuk bergabung dengan NATO pada Kamis, sementara Swedia kemungkinan akan segera menyusul.

Sekutu NATO mengharapkan Finlandia dan Swedia akan diberikan keanggotaan dengan cepat, menurut sumber dari lima diplomat.

Di wilayah Nordik, Norwegia, Denmark dan tiga negara Baltik sudah menjadi anggota NATO.

Penambahan Finlandia dan Swedia kemungkinan akan membuat Rusia murka.

Diketahui Moskow menganggap ekspansi NATO merupakan ancaman langsung terhadap keamanannya sendiri.

Putin mengutip masalah ini sebagai salah satu alasan agresi militernya di Ukraina.

Moskow juga telah berulang kali memperingatkan Finlandia dan Swedia agar tidak bergabung dengan aliansi tersebut, dengan mengancam “konsekuensi militer dan politik yang serius”.

Perjanjian Keamanan Inggris & Finlandia-Swedia

Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri upacara peletakan bunga di Makam Prajurit Tak Dikenal setelah parade militer Hari Kemenangan di Moskow tengah pada 9 Mei 2022. - Rusia merayakan ulang tahun ke-77 kemenangan atas Nazi Jerman selama Perang Dunia II. (Photo by Anton Novoderezhkin / SPUTNIK / AFP) (AFP/ANTON NOVODEREZHKIN)

PM Inggris, Boris Johnson, berjanji akan mendukung Swedia dan Finlandia melawan ancaman dari Rusia dengan cara apapun saat melakukan perjalanan ke dua negara tersebut untuk menandatangani perjanjian keamanan bersama.

Perjanjian itu diteken saat Swedia dan Finlandia sedang mempertimbangkan untuk menjadi anggota NATO, buntut invasi Rusia ke Ukraina.

Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Swedia, Magdalena Andersson, Johnson mengatakan jenis dan tingkat dukungan yang mungkin sebagian besar diatur tergantung permintaan Swedia.

Pada Rabu (11/5/2022) setelahnya, PM Inggris ini menandatangani kesepakatan paralel dengan Presiden Finlandia, Sauli Niinistö.

Kesepakatan bersama itu menjanjikan bahwa jika salah satu negara menghadapi serangan atau bencana, mereka “atas permintaan dari negara yang terkena dampak, saling membantu dalam berbagai cara, yang mungkin termasuk cara militer”.

Pada konferensi persnya dengan Niinistö di Istana Kepresidenan di Helsinki, Johnson menyebut bahwa bantuan dapat melibatkan pasukan Inggris di Finlandia atau Swedia.

“Ya, kami akan saling membantu, termasuk dengan bantuan militer,” kata Johnson, dikutip dari The Guardian.

Sebelumnya dalam pertemuan dengan PM Swedia, Johnson menyebut perang di Ukraina mendorong keputusan ini.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, kiri, menyambut Perdana Menteri Inggris Boris Johnson di Kyiv, Ukraina. ((Kantor Pers Kepresidenan Ukraina/ Tangkap layar Via CNN))

“Perang di Ukraina memaksa kita semua untuk membuat keputusan yang sulit. Tetapi negara-negara berdaulat harus bebas membuat keputusan itu tanpa rasa takut atau pengaruh atau ancaman pembalasan,” kata perdana menteri.

Ditanya tentang apa arti perjanjian Inggris-Swedia secara praktis, Johnson tidak menjelaskannya secara rinci.

Namun ia tidak sepenuhnya keberatan ketika ditanya apakah perjanjian itu memungkinkan Inggris memberikan bantuan senjata nuklir.

“Ini tentang keputusan bersama kita untuk menunjukkan bahwa kita akan saling mendukung dan membela satu sama lain,” katanya.

“Ketika menyangkut pencegah nuklir kami, itu adalah sesuatu yang umumnya tidak kami komentari, tetapi yang saya jelaskan adalah bahwa terserah pada salah satu pihak untuk mengajukan permintaan, dan kami menganggapnya sangat serius.”

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.