Read Time:2 Minute, 40 Second

JAKARTA. Sejumlah sentimen masih akan mewarnai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini, baik eksternal maupun internal. Direktur Utama Maybank Sekuritas Indonesia Willianto Ie menilai, IHSG akan didukung pemulihan ekonomi  makro, yang secara fundamental  masih sangat solid dan berjalan dengan baik.

Ekonomi domestik diperkirakan bakal lebih ekspansif tahun ini, dimana pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai level 5,4% sepanjang tahun 2022. Hal ini ditopang oleh neraca perdagangan yang membaik, yang didorong oleh naiknya harga komoditas.

Selain itu, angka kredit perbankan juga membaik. Ketika harga komoditas naik perlahan di awal 2021, angka pertumbuhan kredit sudah kembali pulih. Sektor yang pertama tumbuh adalah kredit konsumsi, disusul dengan kredit modal kerja jangka pendek atau working capital yang naik dengan cepat.  Jika tren ini berlanjut, maka akan jadi indikator membaiknya ekonomi Indonesia. Di sisi lain, angka kredit macet atau non-performing loans (NPL) sudah mulai stabil.

Perbaikan perekonomian mendorong pemulihan laba bersih perusahaan. Willianto menyebut, laba perusahaan telah kembali ke level ke sebelum pandemi. Dia memproyeksi pertumbuhan laba emiten pada 2022 berada di level 21,7%, didorong oleh pulihnya permintaan domestik.

Maybank Sekuritas cukup optimistis terhadap IHSG. “Pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia tidak akan terganggu omicron dan kebijakan suku bunga,” kata Willianto, Jumat (23/1). Karena itu, Maybank Sekuritas menargetkan IHSG mencapai level 7.500 di akhir 2022, yang merefleksikan price to earnings ratio (PER) sebesar 16,5 kali.

Maybank Sekuritas memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali, menjadi 4,25% tahun ini. Namun, Willianto menilai hal ini cukup wajar asalkan perekonomian bisa tumbuh, sehingga kenaikan suku bunga  bisa diterima oleh pelaku usaha.

Analis Fundamental B-Trade Raditya Krisna Pradana menilai, ada 3 katalis atau sentimen yang akan mempengaruhi pasar ke depan. Pertama, percepatan kebijakan tapering. Pada agenda Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting bulan Desember ini membahas mengenai percepatan tapering menjadi US$ 30 miliar per bulan mulai Januari 2022 dan berakhir pada Maret 2022. Hal ini  berpotensi melemahkan rupiah, mengingat potensi gejolak foreign flow.

Kedua, Raditya menilai bahwa Covid-19 varian  Omicron masih menjadi perhatian khusus untuk saat ini, seiring ketidakpastian yang tinggi. Walaupun memang dampak dari Omicron tidak separah varian Delta, namun penyebaran Omicron lebih cepat dibandingkan Delta.

Penyebaran yang cepat ini tetap menimbulkan potensi negara-negara lain untuk melakukan lockdown dengan tujuan untuk memutus rantai penyebaran. “Oleh karena itu, omicron dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini tentunya menjadi katalis negatif bagi bursa global dan domestik,” terang Raditya kepada Kontan.co.id, Minggu (23/1).

Ketiga, kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Risalah rapat Federal Reserve Amerika Serikat (AS) pada 5 Januari 2021 mengisyaratkan bank sentral mungkin harus menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan (hawkish). Hal ini bertujuan untuk menurunkan tingkat inflasi AS yang sudah terlalu tinggi terutama pada akhir tahun 2021.

Raditya menilai, kondisi ini menjadi katalis negatif bagi pasar saham. Hal ini dikarenakan investor cenderung memilih dolar AS sebagai instrumen investasi. Karena dalam kondisi seperti ini (kenaikan suku bunga),  dolar AS berperan sebagai aset safe haven.

Raditya memasang dua skenario IHSG Pada akhir tahun. Dengan skenario moderat, IHSG pada akhir tahun berpotensi menuju ke level 7.000. sementara dengan skenario optimis, IHSG pada akhir tahun berpotensi untuk menuju level 7.300.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.