Read Time:1 Minute, 32 Second

Ulama Syiah asal Irak, Muqtada al-Sadr, mendesak para pendukungnya untuk tetap melanjutkan aksi duduk di gedung parlemen di ibu kota Baghdad. Tindakan itu merupakan bentuk protes terhadap pemerintah.

Aksi protes tersebut akan tetap dilanjutkan hingga tuntutan al-Sadr, yang meliputi pembubaran parlemen hingga digelarnya pemilihan umum lebih awal dapat dipenuhi.

Selama 10 bulan, Irak berada dalam kebuntuan politik yang menyebabkan negara itu dijalankan tanpa pemerintahan terpilih.

“Bubarkan parlemen dan adakan pemilihan awal,” kata al-Sadr dalam pidatonya, dikutip dari Al Jazeera.

al-Sadr menyampaikan desakannya dalam sebuah pidato yang disiarkan di saluran televisi lokal pada Rabu (3/8). Sebelumnya, ia telah memenangkan jumlah kursi terbesar di parlemen dalam pemilihan pada Oktober tahun lalu.

Namun, ia tidak dapat membentuk pemerintahannya sendiri. Sebab, saingan al-Sadr yang didukung oleh Iran tidak mau bergabung.

Sedangkan aksi protes tersebut merupakan tanggapan terhadap upaya oposisi yang kebanyakan dekat dengan Iran. Pihak oposisi ingin membentuk pemerintahan dengan kandidat perdana menteri yang tidak disetujui al-Sadr.

Pendukung pemimpin populis Irak Moqtada al-Sadr berkumpul untuk duduk di gedung parlemen, di tengah krisis politik di Baghdad, Irak, Selasa (2/8/2022). Foto: Khalid Al-Mousily/REUTERS

Atas ketidaksetujuan ini, al-Sadr menarik anggota parlemennya. Sebagai gantinya, ia meluncurkan tekanan lewat aksi protes dan memanfaatkan pendukung setianya yang terdiri dari jutaan warga Syiah Irak itu untuk berbondong-bondong duduk di gedung parlemen.

Dalam pidatonya, al-Sadr juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin lagi bernegosiasi dengan oposisinya.

“Jangan percaya desas-desus bahwa saya tidak ingin berdialog,” kata al-Sadr. “Kami sudah mencoba dan sudah berdialog dengan mereka (oposisi),” sambung dia.

“(Tapi dialog) itu tidak membawa apa pun bagi kami dan bangsa – hanya kehancuran dan korupsi,” tandasnya.

al-Sadr merupakan seorang populis yang mengedepankan keadilan masyarakat tertindas dan yang berada di kelas menengah.

Kebuntuan politik antara al-Sadr dan para oposisinya telah membuat Irak berada tanpa pemerintahan terpilih dalam waktu terlama sejak era pasca-Saddam Hussein.

Terkait hal ini, Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi menyerukan dilangsungkannya kembali dialog nasional guna menyatukan semua pihak untuk bernegosiasi.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.